Kamis, 17 Oktober 2013

#REF1: DIMENSI BERFILSAFAT




Refleksi 1 Filsafat Ilmu
DIMENSI BERFILSAFAT
Hakikat dari suatu ilmu dapat dicari dengan adanya pemikiran yang mendalam terhadap apa yang akan diketahui. Berpikir mendalam atau berpikir intensif tersebut meliputi berpikir terhadap semua aspek dalam filsafat. Jika mengintensifkan pengertian atau makna dengan membuat pembagian secara umum tentang kehidupan di muka bumi, maka dapat di bagi menjadi empat bagian yaitu material, formal, normatif, dan spiritual. Namun, dengan berpikir yang lebih mendalam maka dapat diketahui bahwa dari keempat bagian tersebut memiliki dimensinya masing-masing yang  saling berhubungan dan meliputi satu sama lain.

  1. Dimensi material merupakan bagaimana cara seseorang memaknai benda disekitar, baik itu memberikan makna yang positif maupun negatif tergantung pada cara berpikirnya. Karena itu pemaknaan dimensi tersebut tergantung pada subjek dan objek yang diamati.
  2. Dimensi formal meliputi formal dalam diri sendri, dalam keluarga, dalam berhubungan dengan lingkungan sekitar, maupun formal yang mencakup universal. Dalam dimensi formal seseorang memiliki jangkauan untuk bersifat formal. Maka tingkat formalitas seseorang berasal dari sikap terhadap diri sendiri dan kebiasaan. Oleh karena itu setiap dimensi formal juga menyangkut hal yang informal. Misalnya elegi yang merupakan bacaan formal, maka  informal dari hal itu adalah tingkah laku dan kemampuan dalam merefleksikannya.
  3. Dimensi normatif merupakan suatu bentuk yang mengisi dimensi formal. Dimensi formal merupakan wadah seseorang untuk berpikir maupun bertindak sehingga dapat menjamin isinya yang merupakan dimensi normatif. Maka antara dimensi formal dan normatif tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena dimensi normatif tanpa adanya dimensi formal menjadi tidak bermakna begitu juga sebaliknya. Misalnya, bentuk formal dari cinta adalah menikah karena dengan adanya pernikahan dapat menjamin suatu hubungan.
  4. Dimensi spiritual meliputi semua dimensi yang ada baik material, formal maupun normatif.  Karena setiap tindakan seseorang akan selalu berdasar pada dimensi spiritual. 

Suatu hal dapat dicapai dengan berpikir dan terus membaca untuk memperoleh pengalaman tentang berfilsafat. Karena ketika membaca dan berpikir itulah seseorang tersebut dikatakan sedang berfilsafat.

#REF2: BAHASA ANALOG: Ratu Ilmu Pengetahuan



Refleksi 2 Filsafat Ilmu
BAHASA ANALOG: Ratu Ilmu Pengetahuan
Sebagai gambaran dalam mempelajari maksud dari bahasa analog yaitu dalam kisah Jaka Tingkir. Dalam ceritanya Jaka Tingkir merupakan seorang pemuda yang dengan gagahnya mampu mengalahkan banyak buaya. Ketika seseorang yang awam atau belum tahu apa itu Jaka Tingkir tidak akan mengetahui maknanya, amun ketika telah mempelajari dan mendapatkan penjelasan, barulah diketahui maknanya bahwa Jaka Tingkir merupakan permisalan dari seorang laki-laki yang berbuat tidak pantas terhadap wanita, bahkan dengan banyak wanita. Dalam hal ini  Jaka Tingkir merupakan sebuah bahasa analog dari gambaran di atas.
Menurut Carl Friedrich Gauss bahwa matematika merupakan “Ratunya Ilmu Pengetahuan”. Ratu Ilmu Pengetahuan merupakan bahasa analog, jika pada dimensi seorang anak, mereka akan memiliki gambaran tersendiri tentang ratu yang biasanya merupakan seseorang dengan wujud yang sempurna. Namun untuk makna yang sebenarnya, dapat diketahui maknanya berawal dengan mengetahui pengertian matematika dari pendapat beberapa ahli, seperti:

  1. Ames (1976): matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya.
  2. Kline (1973): matematika bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika dapat membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam
  3. Ruseffendi (1980): matematika terbentuk sebagai pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran.

Matematika sebagai ratu atau ibunya ilmu dimaksudkan bahwa matematika adalah sebagai sumber dari ilmu yang lain dan pada perkembangannya tidak tergantung pada ilmu lain. Dengan kata lain, banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya bergantung dari matematika. Sebagai contoh: banyak teori-teori dan cabang-cabang dari fisika dan kimia yang ditemukan dan dikembangkan melalui konsep kalkulus. Dari kedudukan matematika sebagai ratu ilmu pengetahuan, matemaika selain tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri juga untuk melayani kebutuhan ilmu pengetahuan lainnya dalam pengembangan dan operasinya.
Jadi, bahasa analog tersebut tidak hanya sekedar pengandaian. Dan untuk memahami bahasa analog tersebut juga memerlukan waktu, pengalaman, pengetahuan, dan ujian. Bahasa analog digunakan dalam kondisi dan tingkatan tertentu hingga kemungkinan orang lain tidak paham dengan apa yang dimaksudkan. Kita mempunyai dan sering menjumpai banyak bahasa dalam kehidupan senari-hari, hal ini bertujuan agar mampu mengkomunikasikan banyak hal dalam dimensi yang berbeda. Perbedaan cara berkomunikasi misalnya dalam dimensi orang tua dan anak-anak, kakek-kakek dan anak muda. Misalnya dalam pembelajaran matematika, matematika bagi anak kecil merupakan kegiatan, sedangkan matematika untuk orang dewasa bermakna sebagai ilmu. Permisalan lainnya, makanan untuk orang dewasa tidak bisa juga disamakan dengan makanan bayi. Jadi, dalam mengkomunikasikannya tidak bisa disamakan pada tiap dimensi. 
Mempelajari filsafat bertujuan agar mampu (1) Mengembangkan pengetahuan untuk mengkomunikasikan hal-hal  yang ada pada dimensi filsafat, (2) Menyadari, mengenali, mendiskripsikan, dan menggunakan lebih banyak struktur dimensi. Struktur dimensi dalam filsafat tidak hanya material, formal, normatif, dan spiritual, namun masih banyak struktur lain yang bahkan dapat dimulai dari diri sendiri. (3) Mempelajari kemampuan/keterampilan berkomunikasi serta membangun hidup meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Hal ini dapat dijadikan sebagai modal awal untuk lebih memahami makna hidup.