Refleksi 3 Filsafat Ilmu
HUBUNGAN
ANTARA LOGIKA, PERASAAN, DAN TAKDIR
Hubungan antara logika, perasaan, dan
takdir dapat dianalogikan ke dalam sebuah contoh yang terjadi dalam kehidupan
diri sendiri. Contoh berikut berkaitan dengan keputusan saya mengambil jurusan
Pendidikan Matematika pada jenjang S1 hingga S2 saat ini.
Diawali ketika saya lulus SMA dan sangat
ingin melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan. Pada saat itu saya mengikuti
berbagai tes atau ujian masuk perguruan tinggi hingga tiga kali demi kuliah di
jurusan yang berhubungan dengan kesehatan. Pertam a saya mengikuti tes Ujian
Masuk Bersama (UMB) untuk beberapa universitas di Indonesia. Ketika itu saya mengambil
jurusan Kedokteran dan Farmasi. Kedua saya mengikuti tes di salah satu
Politeknik Negeri di kota Padang untuk mengambil jurusan Kebidanan. Dan ketiga
saya mengikuti tes seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN),
saya pun tetap mengambil jurusan Kedokteran. Setelah melewati tiga kali tes
yang membuat saya gagal untuk kuliah di bidang kesehatan maka kemungkinan untuk
dapat kuliah di perguruan tinggi negeri pun tidak mungkin lagi bagi saya pada
saat itu. Ketika adanya tes untuk mahasiswa non regular di Universitas Negeri
Padang, dan orang tua pun meminta saya untuk mengikutinya. Hati saya menolak
karena teringat kata-kata yang pernah saya katakana pada teman, bahwa saya
tidak ingin menjadi guru. Namun ketika orang tua yang meminta pun saya tidak
mampu untuk menolak. Hingga akhirnya saya lulus dan kuliah di jurusan
Pendidikan Matematika. Setelah menjalani beberapa semester, dan menghadapi
berbagai karakter siswa pada saat PPLK, kesenangan dan niat untuk menjadi
seorang guru pun muncul dengan sendirinya. Karena suatu hal yang tak ternilai
harganya ketika kita memberikan ilmu kepada anak, dan anak pun mengerti dengan
apa yang diberikan serta bermanfaat bagi mereka. Karena itulah saya ingin
melanjutkan pendidikan kembali dengan bidang yang sama.
Berdasarkan contoh ilustrasi kehidupan
di atas dapat dikatakan bahwa logika mempengaruhi perasaan ketika setelah
mengikuti tiga kali tes masuk perguruan tinggi dan hasilnya tidak lulus, muncul
perasaan kecewa dan pesimis untuk dapat kuliah di perguruan tinggi negeri. Dan
ketika hati tidak ingin kuliah di jurusan kependidikan namun hati juga tidak
mampu menolak keinginan orang tua. Perasaan yang muncul tersebut mempengaruhi
takdir karena dengan perasaan kecewa, pesimis, dan ketidakmampuan menolak
keinginan orang tua tersebut menjadi jalan kehidupan atau takdir yang hingga
kini dijalani dengan kesenangan, keikhlasan, dan ketulusan.
1. Apakah
bahasa analog dalam artian memiliki kesamaan dengan analogi dalam bahasa
Indonesia?
Filsafat merupakan
suatu yang intensif dan ekstensif yang harus dipelajari sedalam-dalamnya. Dalam
menggunakan bahasa analog harus tergantung dalam semesta pembicaraan, jika
dalam pelajaran Bahasa Indonesia, maka harus disesuaikan dengan pelajaran
Bahasa Indonesia. Namun bahasa analog dalam filsafat yaitu bagaimana dapat
berkonumikasi antar dimensi. Bahasa tidak sepenuhnya dapat menggambarkan
keadaan atau sifat yang dimaksudkan, sehingga dapat menggunakan lambang atau simbol.
Penggunaan lambang dan simbol artinya dalam filsafat yaitu menggunakan bahasa
dari dimensi lain. Seperti kehidupan makhluk gaib yang tidak dapat dimengerti dan
digambarkan bagaimana kehidupannya yang sebenarnya, namun hanya dapat menghubungkan
dan menggambarkannya dengan bahasa yang dimiliki. Atau misalnya dalam adat jawa
memiliki berbagai bahasa khusus yang dimaksudkan untuk hal tertentu. Bahasa
analog juga dapat diciptakan sendiri untuk dapat berkomunikasi dengan orang
yang mampu memahami maksudnya.
2. Bagaimana
hati, pikiran, dan tindakan dapat diselaraskan?
Selama hidup di dunia,
maka dalam menjalani kehidupan sangat sulit untuk konsisten, namun manusia
hanya mampu untuk berusaha. Sehingga dapat dikatakan bahwa hati, pikiran, dan
tindakan dapat diselaraskan hanya di akhirat. Karena
3. Apakah
dengan berfilsafat dapat membuat seseorang lebih bijak?
Tingkat kebijakan
seseorang itu berbeda antara orang Barat maupun Timur. Menurut orang Timur
diakatakan bijak jika memberi, tapi orang Barat dikatakan bijak ketika ia mampu
mencari. Sehingga dapat dikatakan bahwa kebijakan tersebut merupakan suatu yang
kontekstual.
4. Bagaimana
menggapai berpikir logis dalam berfilsafat?
Menurut Immanuel kant, segala
macam ilmu diperoleh dari pikiran dan pengalaman. Ketika seseorang memperoleh
ilmu berdasarkan logika, misalnya saat berhadapan dengan singa, maka akan
timbul rasa takut walaupun belum pernah menyentuhnya, hal ini diartikan bahwa
rasa takut itu hanya karena logika. Berdasarkan ilustrasi seorang yang dicakar
singa, dapat diambil kesimpulan bahwa seseorang yang berpikir dan dengan adanya
pengalaman maka logika dan ilmu yang dimiliki akan lengkap dan dapat
dimanfaatkan. Sebaliknya akan sia-sia jika adanya pengalaman tanpa adanya pemikiran.
Berpikir logis adalah konsisten yang berangkat dari asumsi dasar dan teorema.
5. Apakah
memahami filsafat hanya dengan memahami elegi-elegi dalam filsafat? Karena
untuk memahami elegi sudah cukup sulit, bagaimana memahami filsafat?
Elegi dapat dipahami
dengan adanya kebiasaan dalam membaca elegi. Elegi dibuat untuk mempermudah
dalam menguraikan hakikat suatu hal dengan berdasarkan ide orang awam. Dalam
berfilasafat melatih pikiran kita secara profesional untuk dapat mengungkap
hal-hal yang tidak biasa dipikirkan oleh orang awam, yang bersifat ontologi.
Sehingga dalam pembelajarannya digunakan bahasa analog yang tertuang dalam
elegi.
6. Bagaimana
belajar ikhlas?
Dapat dipahami dengan memahami elegi menggapai
ikhlas. Ritual ikhlas dibuat dengan pemikiran yang membicarakan tentang
keihkalsan. Berpikir ikhlas merupakan memikirkan tentang keikhlasan atau
berpikir secara ikhlas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar