PERKEMBANGAN
DAN EPISTIMOLOGIS FILSAFAT
Menurut
kajian filsafat terdapat dua aliran ilmu dalam kehidupan, yaitu ilmu kealaman
dan ilmu humaniora (ilmu dunia). Dalam ilmu tersebut memiliki tingkatan, dimana
spiritual merupakan tingkat pertama dalam ilmu, namun tidak akan cukup jika
spiritual hanya sekedar dalam bentuk
ilmu. Misalnya ketika seseorang berdo’a, dalam dimensi spiritual jika
hanya memiliki ilmu, maka tidak akan dapat berdo’a secara khusyuk sehingga
dalam ilmu spiritual juga harus berasal dari hati.
Aliran
filsafat dalam kehidupan berasal dari “hakikat yang ada”. Hakikat yang ada
memiliki dua sifat yaitu:
1.
Bersifat Tetap
Hakikat
yang ada bersifat tetap dipelopori tokoh filsafat Permenides. Menurut Permenides
bahwa segala sesuatu merupakan sesuatu yang tetap (tidak berubah) sehingga
dapat dikatakan suatu yang tidak dapat dibantah. Misalnya, hingga akhir zaman
makhluk hidup tetaplah merupakan ciptaan Tuhan, sehingga hal ini tidak dapat
dibantah. Setelah adanya aliran yang menyatakan bahwa segala sesuatu bersifat
tetap muncul Plato dengan aliran idealisme dan diikuti Rene Descartes dengan
aliran rasionalisme yang bersifat koheren, konsisten. Pada aliran rasionalisme
hakikat ilmu adalah apriori yang bersifat analitik apriori yaitu suatu paham
yang menyatakan bahwa suatu argumen yang pembenarannya tidak perlu diperiksa
dengan ilmu apapun.
2.
Bersifat Berubah
Hakikat
yang ada bersifat berubah dipelopori tokoh filsafat Heraclitos. Menurut
Heraklitos segala sesuatu itu mengalir atau segala sesuatu itu berubah secara
terus menerus. Bersifat berubah karena setiap waktu sesuatu tersebut dengan
mudah dapat berubah baik bentuk maupun keadaan. Misalnya keadaan hari ini bisa
saja berubah pada esok harinya, dan kondisi diri sendiri pun dapat berubah.
Setelah
adanya aliran Heraclitos yang menyatakan segala sesuatu itu berubah muncul paham
realisme yang dipelopori oleh Aristoteles. Kemudian muncul aliran empirisme
oleh David Hume yang bersifat koresponden, kontradiksi dan tidak konsisten. Pada
aliran empirisme hakikat ilmu adalah sintetik yang bersifat sintetik
aposteriori yaitu suatu paham yang menyatakan bahwa pembenaran suatu argumen
diperlukan bukti yang empiris.
Pada
aliran rasionalisme dan empirisme terjadi konfrontasi, atau perbedaan pendapat
karena kedua aliran semakin professional dalam mengembangkan ilmu. Namun dalam
perkembangan, konfrontasi yang terjadi yaitu
baik maupun buruk. Misalnya dalam budaya gotong royong, bagi rakyat primitif,
gotong royong merupakan hal yang dilakukan ketika misalnya membangun rumah,
namun karena telah berkembang lebih professional, kegiatan gotong royong tidak
pernah dilakukan dalam membangun gedung bertingkat. Hal ini terjadi pada abad
16 yang dipelopori oleh Immanuel Kant.
Perkembangan
filsafat terus berlanjut hingga pada abad ke13 muncul Auguste comte dengan
aliran positivisme yang merupakan antithesis dari filsafat. Pada aliran
positivisme inilah asal mula atau pangkal dari berbagai bentuk permasalahan hidup,
karena menurut Auguste Comte menyatakan bahwa segala sesuatu itu ada dan
mungkin ada. Sehingga muncul berbagai masalah dalam beragama, karena menurut
Auguste Comte bahwa agama tidak dapat mendukung masyarakat dapat menjadi
masyarakat maju. Masyarakat maju berarti masyarakat yang berkembang sesuai
dengan ilmu pengetahuan. Pada paham ini agama telah dikesampingkan dan tidak
memiliki dasar.
Yang diharapkan dalam berfilsafat dan sebagai masyarakat
timur yang patuh beragama dan percaya pada adanya Tuhan, maka tingkatan dalam
dimensi filsafat itu seharusnya sebagai berikut:
Berdasarkan
inilah terlihat adanya pertentangan antara paham Auguste
Comte dengan paham masyarakat beragama yaitu antara yang terjadi sebenarnya
dengan teori. Karena itulah banyak munculnya pengaruh budaya asing yang berdasarkan
pada budaya barat, dengan skema berikut:
Dalam situasi ini, spiritualitas
terdapat dalam kelompok archaic, tribal, dan tradisional. Bahkan setiap
kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan dianggap suatu yang tidak logis. Hal
inilah yang berkembang dalam masyarakat yang tidak dikehendaki atau tidak
sesuai dengan apa yang seharusnya. Adanya penyimpangan ini merupakan akibat
dari kehidupan yang berdasarkan “Power Now”. Solusinya yaitu dalam kurikulum
misalnya dalam sikap atau karakter matematika yang dapat dikembangkan seperti
rasa ingin tahu. Namun rasa ingin tahu orang beragama yang proporsional berbeda
dengan rasa ingin tahu orang barat, sehingga dapat dikatakan bahwa definisi
adab itu berbeda. Hal ini dapat dipahami dengan adanya filsafat, yaitu
bagaimana dampak alur kehidupan bagi masyarakat.
1. Jika
positivisme bertentangan dengan filsafat, apakah positivisme itu merupakan hal
yang buruk?
Positivisme dan filsafat merupakan suatu fenomena yang
ada di dunia, jadi jika dalam alirannya
terdapat pertentangan, tidak berarti bahwa positivisme merupakan hal yang
buruk, karena dalam pemahamannya bukanlah tentang baik atau buruk dari
keduanya, namun keduanya sesuai dengan peruntukan dan kegunaannya
masing-masing.
2. Apakah
pendidikan di Indonesia telah dipengaruhi oleh sistem yang salah?
Di Indonesia karena
Indonesia merupakan negara yang demokratis, maka seharusnya pendidikan
Indonesia juga harus memenuhi syarat agar demokratis. Namun di pendidikan
Indonesia belum memiliki pola karena para pemimpin negara telah terkena
fatamorgana.
3. Pada
saat terjadi konfrontasi aliran antara Plato dan Aristoteles kemudian disatukan
oleh Immanuel Kant. Apakah setelah itu terjadi lagi berbagai konfrontasi?
Konfrontasi atau
pertentangan antara aliran filsafat terus terjadi. Misalnya antara materi
matematika, yaitu adanya matematika murni dan matematika sekolah. Namun hal ini
dapat ditempatkan sesuai dengan proporsinya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar