Kamis, 07 November 2013

#REF4: PERKEMBANGAN DAN EPISTIMOLOGIS FILSAFAT



PERKEMBANGAN DAN EPISTIMOLOGIS FILSAFAT
Menurut kajian filsafat terdapat dua aliran ilmu dalam kehidupan, yaitu ilmu kealaman dan ilmu humaniora (ilmu dunia). Dalam ilmu tersebut memiliki tingkatan, dimana spiritual merupakan tingkat pertama dalam ilmu, namun tidak akan cukup jika spiritual hanya sekedar dalam bentuk  ilmu. Misalnya ketika seseorang berdo’a, dalam dimensi spiritual jika hanya memiliki ilmu, maka tidak akan dapat berdo’a secara khusyuk sehingga dalam ilmu spiritual juga harus berasal dari hati.
Aliran filsafat dalam kehidupan berasal dari “hakikat yang ada”. Hakikat yang ada memiliki dua sifat yaitu:
1.      Bersifat Tetap
Hakikat yang ada bersifat tetap dipelopori tokoh filsafat Permenides. Menurut Permenides bahwa segala sesuatu merupakan sesuatu yang tetap (tidak berubah) sehingga dapat dikatakan suatu yang tidak dapat dibantah. Misalnya, hingga akhir zaman makhluk hidup tetaplah merupakan ciptaan Tuhan, sehingga hal ini tidak dapat dibantah. Setelah adanya aliran yang menyatakan bahwa segala sesuatu bersifat tetap muncul Plato dengan aliran idealisme dan diikuti Rene Descartes dengan aliran rasionalisme yang bersifat koheren, konsisten. Pada aliran rasionalisme hakikat ilmu adalah apriori yang bersifat analitik apriori yaitu suatu paham yang menyatakan bahwa suatu argumen yang pembenarannya tidak perlu diperiksa dengan ilmu apapun.
2.      Bersifat Berubah
Hakikat yang ada bersifat berubah dipelopori tokoh filsafat Heraclitos. Menurut Heraklitos segala sesuatu itu mengalir atau segala sesuatu itu berubah secara terus menerus. Bersifat berubah karena setiap waktu sesuatu tersebut dengan mudah dapat berubah baik bentuk maupun keadaan. Misalnya keadaan hari ini bisa saja berubah pada esok harinya, dan kondisi diri sendiri pun dapat berubah.
Setelah adanya aliran Heraclitos yang menyatakan segala sesuatu itu berubah muncul paham realisme yang dipelopori oleh Aristoteles. Kemudian muncul aliran empirisme oleh David Hume yang bersifat koresponden, kontradiksi dan tidak konsisten. Pada aliran empirisme hakikat ilmu adalah sintetik yang bersifat sintetik aposteriori yaitu suatu paham yang menyatakan bahwa pembenaran suatu argumen diperlukan bukti yang empiris.

Pada aliran rasionalisme dan empirisme terjadi konfrontasi, atau perbedaan pendapat karena kedua aliran semakin professional dalam mengembangkan ilmu. Namun dalam perkembangan, konfrontasi yang terjadi  yaitu baik maupun buruk. Misalnya dalam budaya gotong royong, bagi rakyat primitif, gotong royong merupakan hal yang dilakukan ketika misalnya membangun rumah, namun karena telah berkembang lebih professional, kegiatan gotong royong tidak pernah dilakukan dalam membangun gedung bertingkat. Hal ini terjadi pada abad 16 yang dipelopori oleh Immanuel Kant.
Perkembangan filsafat terus berlanjut hingga pada abad ke13 muncul Auguste comte dengan aliran positivisme yang merupakan antithesis dari filsafat. Pada aliran positivisme inilah asal mula atau pangkal dari berbagai bentuk permasalahan hidup, karena menurut Auguste Comte menyatakan bahwa segala sesuatu itu ada dan mungkin ada. Sehingga muncul berbagai masalah dalam beragama, karena menurut Auguste Comte bahwa agama tidak dapat mendukung masyarakat dapat menjadi masyarakat maju. Masyarakat maju berarti masyarakat yang berkembang sesuai dengan ilmu pengetahuan. Pada paham ini agama telah dikesampingkan dan tidak memiliki dasar.
            Yang diharapkan dalam berfilsafat dan sebagai masyarakat timur yang patuh beragama dan percaya pada adanya Tuhan, maka tingkatan dalam dimensi filsafat itu seharusnya sebagai berikut:

Berdasarkan inilah terlihat adanya pertentangan antara paham Auguste Comte dengan paham masyarakat beragama yaitu antara yang terjadi sebenarnya dengan teori. Karena itulah banyak munculnya pengaruh budaya asing yang berdasarkan pada budaya barat, dengan skema berikut:
Dalam situasi ini, spiritualitas terdapat dalam kelompok archaic, tribal, dan tradisional. Bahkan setiap kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan dianggap suatu yang tidak logis. Hal inilah yang berkembang dalam masyarakat yang tidak dikehendaki atau tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Adanya penyimpangan ini merupakan akibat dari kehidupan yang berdasarkan “Power Now”. Solusinya yaitu dalam kurikulum misalnya dalam sikap atau karakter matematika yang dapat dikembangkan seperti rasa ingin tahu. Namun rasa ingin tahu orang beragama yang proporsional berbeda dengan rasa ingin tahu orang barat, sehingga dapat dikatakan bahwa definisi adab itu berbeda. Hal ini dapat dipahami dengan adanya filsafat, yaitu bagaimana dampak alur kehidupan bagi masyarakat.

1.      Jika positivisme bertentangan dengan filsafat, apakah positivisme itu merupakan hal yang buruk?
Positivisme dan filsafat merupakan suatu fenomena yang ada di dunia, jadi jika dalam  alirannya terdapat pertentangan, tidak berarti bahwa positivisme merupakan hal yang buruk, karena dalam pemahamannya bukanlah tentang baik atau buruk dari keduanya, namun keduanya sesuai dengan peruntukan dan kegunaannya masing-masing.
2.      Apakah pendidikan di Indonesia telah dipengaruhi oleh sistem yang salah?
Di Indonesia karena Indonesia merupakan negara yang demokratis, maka seharusnya pendidikan Indonesia juga harus memenuhi syarat agar demokratis. Namun di pendidikan Indonesia belum memiliki pola karena para pemimpin negara telah terkena fatamorgana.
3.     Pada saat terjadi konfrontasi aliran antara Plato dan Aristoteles kemudian disatukan oleh Immanuel Kant. Apakah setelah itu terjadi lagi berbagai konfrontasi?
Konfrontasi atau pertentangan antara aliran filsafat terus terjadi. Misalnya antara materi matematika, yaitu adanya matematika murni dan matematika sekolah. Namun hal ini dapat ditempatkan sesuai dengan proporsinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar