Kamis, 09 Januari 2014

IMPLEMENTASI FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN DAN KURIKULUM 2013



IMPLEMENTASI FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN DAN KURIKULUM 2013 

A. PENDAHULUAN

Tujuan pendidikan matematika di dunia tidak terlepas dari teori pendidikan yang melatar belakanginya. Setiap pendidikan memiliki kurikulum yang dilandasi oleh pandangan filosofis tertentu. Filsafat merupakan sumber dan awal bagi tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai negara di dunia. Paul Ernest menyatakan dalam peta pendidikan yang dibuatnya terdapat lima ideologi yang menjadi karakter suatu bangsa. Lima ideologi pendidikan matematika yaitu industrial trainer, technological pragmatism, old humanist, progressive educator, dan public educator.
Peta pendidikan menurut Paul Ernest tersebut terbagi dalam empat bagian yang masing-masing menjelaskan tentang aspek yang membedakan setiap ideologi dalam pendidikan matematika, sebagai berikut:

  1. Peta pendidikan dunia 1 menjelaskan tentang ideology politik, pandangan setiap kaum terhadap matematika, dan nilai moral bagi setiap kaum.
  2. Peta pendidikan dunia 2 menjelaskan tentang teori social, hakikat siswa, dan teori kemampuan siswa menurut tiap kaum.
  3. Peta pendidikan dunia 3 menjelaskan tentang tujuan pendidikan matematika, teori belajar, dan teori mengajar.
  4. Peta pendidikan dunia 4 menjelaskan tentang sumber pembelajaran, evaluasi, dan keragaman pada tiap kaum.
B. PEMBAHASAN
1.      Industrial trainer
Menurut pandangan kaum industrialis, semua hal yang dilakukan dikerahkan untuk kepentingan industri termasuk pendidikan. Pendidikan diarahkan pada hal-hal untuk menjadikan anak didik sebagai tenaga kerja. Dilihat dari sisi kemanusiaan, pandangan kaum industrialis mereduksi banyak kebutuhan anak didik. Industrial trainer dimaksudkan untuk pelatihan kepada siswa melalui pembelajaran matematika yang merupakan bagian dari persiapan untuk kehidupan siswa dalam menghadapi dunia kerja. Matematika pada industrial trainer ini dipandang sebagai body of knowledge. Matematika sebagai ratunya ilmu dimaksudkan matematika adalah sebagai sumber dari ilmu yang lain. Banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya bergantung dari matematika. Matematika adalah tunggal. Kebenaran dan kesalahan di dalam metematika bersifat absolut.
Pada kurikulum 2013 pembelajaran harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi siswa yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. Oleh sebab itu, kurikulum perlu memuat kecakapan hidup untuk membekali siswa memasuki dunia kerja. Sehingga pada industrial trainer teori sosial yang menginginkan siswa untuk menjadi pemimpin yang keras relevan dengan prinsip kurikulum 2013. Teori hakekat siswa pada industrial trainer adalah siswa merupakan bejana kosong. Dalam kurikulum 2013 dijelaskan bahwa siswa memiliki pengetahuan dasar yang diharapkan dapat menjadi landasan untuk menggali pengetahuan selanjutnya. Siswa dituntut aktif mencari dan membangun pengetahuan bukan menerima pengetahuan. Teori kemampuan siswa pada industrial trainer sesuai dengan kurikulum 2013 yaitu pada bahwa pada proses pembelajaran guru dapat membentuk siswa dengan kemampuan mereka. Kemampuan yang diharapkan adalah kemampuan pada aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan, diharapkan siswa dapat menggunakan kemampuan/ bekal-bekal tersebut untuk menjawab tantangan masa depan.
Tujuan pendidikan matematika kaum ini adalah back to basic, dimana siswa dituntut untuk memiliki kemampuan dasar dalam pendidikan. Teori belajar yang digunakan adalah kerja keras, tugas, drill, hafalan, sedangkan teori mengajar yang digunakan adalah transfer of knowledge. Hal ini mengandung maksud bahwa dalam pembelajaran matematika guru memindahkan pengetahuan ke siswa, sehingga siswa dan guru memiliki pemahaman yang sama.
Sumber pembelajaran Industrial Trainer berasal dari guru. Dalam proses pembelajaran tidak ada tempat untuk masalah sosial dalam matematika, semuanya hanya tentang konsep dasar menghitung dan bilangan. Pembelajaran semacam ini dilaksanakan di Indonesia pada kurikulum 1994. Penilaian dalam Industrial Trainer bersifat otoriter, lapisan masyarakat atas bertanggungjawab untuk mengecek dan mengontrol level dibawahnya. Keragaman sosial tidak menjadi masalah dalam matematika, kecuali siswa membutuhkan pengelompokkan dalam kemampuan matematika.
2.      Technological pragmatism
Merupakan sikap dan perilaku politik yang tidak menginginkan adanya perubahan yang berarti (mendasar) dalam sebuah sistem. Sikap ini biasanya dianut oleh mereka yang tengah menikmati posisi istimewa atau kekuasaan dalam sebuah struktur atau paling tidak merasa sangat diuntungkan oleh sistem yang ada. Kaum konservatif cenderung mempertahankan dan melestarikan sistem yang sudah ada. Kalaupun mereka melakukan perubahan karena desakan dan dorongan oleh pihak luar, kaum konservatif hanya ingin perubahan itu tidak menggeser atau menghilangkan posisi mereka dalam kekuasaan. Perubahan hanya mungkin terjadi bila situasi sudah sangat krisis dan mendesak yang memaksa mereka harus turun dari posisi kekuasaan.
Matematika dipandang sebagai Science of truth. Dimana ukuran kebenaran ilmu adalah rasionalisme dan empirisme sehingga kebenaran ilmu bersifat empiris dan rasional. Dalam kurikulum 2013 proses pembelajaran matematika mengarahkan siswa untuk membuktikan sesuatu hal berdasarkan pengalaman langsung.
Teori sosial masyarakat technological pragmatism menganggap bahwa yang berprestasilah yang dapat duduk sebagai pemimpin. Hal ini tidak sesuai dengan kurikulum 2013 yang fokus terhadap tiga aspek pengembangan yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan karena, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang cerdas di bidang akademik dan berkarakter serta terampil. Sama halnya pada kaum industrial trainer bahwa hakekat siswa pada technological pragmatist merupakan bejana kosong dan tidak sesuai dengan prinsip kurikulum 2013.
Dalam proses pembelajaran siswa dituntut untuk tetap melakukan proses guna memunculkan dan memaksimalkan talenta (bakat) yang mereka miliki untuk mendapatkan ijazah guna mempersiapkan mereka untuk tantangan kerja di masa depan. Dengan memiliki ijazah seseorang dapat menggunakannya untuk mencari pekerjaan yang bermanfaat bagi dirinya. Teori belajar yang digunakan dalam oleh kaum ini adalah thinking dan practice. Teori mengajar dilakukan dengan memotivasi dari luar.
Belajar dalam ideologi ini adalah proses berpikir dan praktek sehingga siswa membutuhkan alat peraga dalam proses pembelajaran. Guru sudah mulai menggunakan teknologi sebagai alat bantu, dalam hal ini mengkombinasikan antara manual dengan bantuan komputasi seperti kalkulator. Menurut pandangan technological pragmatist, kemampuan instruksi dan motivasi dapat dibangun melalui relevansi pekerjaan. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes eksternal, tes ini dimaksudkan untuk menyediakan sertifikat pencapaian dan keterampilan yang didapat. Dan keragaman sosial dan pendidikan dalam technological pragmatist lebih menekankan pada manfaat untuk pekerjaan di masa depan, atau pendidikan lebih lanjut di masa depan.
3.      Old humanist
Kaum old humanist, memiliki pandangan yang berpusat pada diri manusia, bukan pada Tuhan. Matematika dipandang sebagai Structure of truth (struktur kebenaran). Nilai moral diajarkan oleh orang tua kepada anaknya. Hal ini memandang orang tua memiliki peran dalam menentukan moral anaknya.
Teori sosial old humanist yang menyatakan bahwa masyarakat harus melestarikan budaya telah sesuai dengan landasan yuridis kurikulum 2013 yang menyatakan bahwa kualifikasi pengetahuan yang dimiliki siswa adalah memiliki pengetahuan faktual dan konseptual tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni,, dan budaya dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban. Kaum ini menyatakan bahwa hakekat siswa dalam pembelajaran harus ditanamkan nilai-nilai karakter. Menurut pandangan ini, bakat dan matematika genius yang diwariskan, dan kemampuan matematika dapat diidentifikasi dengan kecerdasan murni. Pendidikan diberikan agar siswa mengetahui bakat mereka sendiri dan mampu mengembangkannya.
Tujuan pendidikan matematika adalah transfer of knowledge. Hal ini berarti pada pembelajaran matematika guru memindahkan pengetahuan ke siswa, sehingga siswa dan guru memiliki pemahaman yang sama. Teori belajar yang digunakan oleh kaum ini adalah understanding and application atau memahami dan menerapkan. Teori mengajar adalah ekspositori/ceramah.
Guru dapat menggunakan sumber belajar lainnya untuk memotivasi atau memfasilitasi pemahaman siswa. Peran guru dalam perspektif ini adalah mengkomunikasikan matematika yang bermakna. Penilaian dalam kaum Old Humanist ini menggunakan test eksternal yang didasarkan pada susunan terstruktur pada materi pelajaran matematika dan pada jumlah atau tingkat yang sesuai dengan kemampuan matematika. Guru dituntut untuk lebih kreatif dalam penyampaian bahan ajar, agar peserta didik lebih mengerti dalam aplikasinya. Untuk keragaman sosial, matematika bertujuan untuk memanusiakan manusia untuk tujuan pendidikan.
4.      Progressive educator
Kaum progressive educator memiliki sikap politik bebas dan ingin maju terus, selalu menginginkan perubahan progresif dan cepat. Matematika dipandang sebagai process of thinking (proses berpikir). Matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio atau penalaran yang terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran.
Teori progressivism sebetulnya merupakan perluasan pikiran-pikiran pragmatism pendidikan. Teori ini memandang siswa sebagai makhluk sosial yang aktif. Kaum progressive educator yang menganut paham liberal, bebas tanpa adanya batasan dari pemerintah. Hakekat siswa di progressive educator ini adalah berorientasi pada siswa (students centered). Pada kaum ini, siswa merupakan subjek yang aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pada kaum ini diperlukan adanya kerjasama antara guru dan siswa serta siswa dan siswa. Teori kemampuan siswa di progressive educator adalah hal yang dibutuhkan. Maksudnya adalah siswa belajar dan tumbuh melalui pengalaman secara fisik dan dunia sosial.
Tujuan pendidikan matematika menuntut kreativitas siswa dan dalam pembelajaran melibatkan keatifan siswa. Teori pembelajarannya adalah eksplorasi. Teori pengajarannya adalah konstruktivis atau membangun dan mengembangkan pengetahuannya sendiri. Berdasarkan pada kebutuhan siswa, pola pendidikan ini menggunakan alat atau fasilitas yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi dirinya dan membangun pengetahuannya sendiri.
Penilaian dilakukan dengan porto-folio dimana tidak hanya melihat dari kemampuan praktis siswa tetapi juga menilai dari proses mendapatkannya. Guru menerima banyak solusi yang diutarakan oleh siswa, karena pembelajarannya berbasis pada penemuan. Sehingga pembelajaran matematika dapat dihubungkan dengan budaya lokal atau kehidupan sehari-hari, agar matematika lebih mudah dipahami oleh siswa.
5.      Public educator
Menurut public educator pendidikan hendaknya bertujuan menyediakan pengalaman untuk menemukan atau memecahkan hal-hal baru dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya. Pada hakikatnya masyarakat adalah terbaik, namun masyarakat yang demokratis merupakan masyarakat terbaik dimana terdapat kesempatan untuk setiap pekerjaan dan dalam demokrasi tidak mengenal adanya stratifikasi sosial.
Matematika dipandang sebagai aktivitas sosial, artinya semua aktivitas sosial didasarkan pada konsep-konsep matematika, sedangkan pada kenyataannya aktivitas sosial yang dilakukan oleh seseorang tidak selalu dihubungkan dengan konsep matematika, karena terkadang seseorang tidak menyadari bahwa matematika telah mengambil bagian dalam setiap aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Dalam nilai moralnya seseorang bebas melakukan segala sesuatu yang diinginkannya tanpa memandang baik atau buruknya.
Teori sosial dari public educator menyatakan bahwa perlu suatu reformasi atau pembaharuan untuk suatu ketidakadilan. Bagi public educator, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Bila dikaitkan dengan peta pendidikan dunia Paul Ernest mengenai teori sosial dari public educator, maka telah sesuai antara landasan yuridis dengan peta pendidikan dunia yang dikemukakan. Hakekat siswa menurut public educator adalah siswa bukan merupakan kertas kosong putih bersih yang siap menerima coretan-coretan dari gurunya. Sedangkan teori kemampuan siswa menurut kelompok sosial public educator adalah berdasarkan aspek budaya dan relatif pada diri siswa. Karena itu, dalam pembelajaran guru perlu memperhatikan perbedaan individu tersebut dan berperan sebagai fasilitator, menyediakan sesuatu yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan bakat yang dimilikinya.
Tujuan pendidikan matematika adalah mengembangkan kemampuan manusia secara meneyeluruh melalui pembelajaran matematika. Pendidikan didapat saat anak terlibat aktif dan menyatu dengan semua kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungannya. Orang tua tidak mengisolasi anak-anaknya di dalam sekolah. Maksud dari public educator ini adalah masyarakat turut berperan sebagai mentor dan guru bagi si anak. Teori pembelajarannya adalah diskusi sehingga siswa diberi kebebasan sesuai dengan kemampuannya. Teori pengajarannya adalah diskusi dan investigasi.
Sumber matematika pada ideologi ini bersifat abstrak dan diajarkan melalui hal-hal yang sifatnya kongkrit, yang menjadi masalah di masyarakat, melalui proses diskusi dan invertigasi siswa berusaha untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan berdasarkan konteks dunia nyata yang diberikan. Penilaian yang dilakukan menggunakan berbagai metode atau portofolio dengan menggunakan konteks sosial. Dengan ini, guru dapat mengetahui kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah. Melalui pola pendidikan ini siswa menjadi heterogen, karena dikenalkan dengan berbagai isu-isu atau masalah atau gejala sosial yang nampak dimasyarakat dengan berbagai variasinya. Dengan demikian, siswa mengakomodir berbagai variasi tersebut dan mengembangkan berbagai kemampuan yang ada pada dirinya, atau heterogen.

Di Indonesia sendiri tujuan pendidikan lebih diarahkan ke industrialism. Kelembagaan dan praktek pendidikan Indonesia masih berupa pola-pola melanjutkan pendidikan penjajahan dan budaya kolonial dari masa lampau yang merupakan pencerminan lembaga pendidikan negara-negara yang sudah maju, sehingga dalam praktek sehari-hari, hasil pendidikan kurang mencerminkan aspirasi bangsa sendiri. Sulitnya mengubah mental pemimpin Indonesia dari kebiasaan ketergantungan, sehingga mereka cenderung berorientasi pada saran dan sugesti para ilmuwan negara-negara barat dan mengunggulkan model pendidikan negara-negara barat yang belum tentu cocok dengan kebutuhan pendidikan Indonesia.
Kemajuan masyarakat industri Eropa adalah hasil dari akumulasi empat hal, sebagai hubungan komplementer dari kapitalisme, industrialisme, pengawasan, dan kekuatan militer. Dalam pendidikan di Indonesia terlihat pada praktek pendidikan yang bersifat otoriter yang berpusat pada guru, sekolah hanya memberikan program pendidikan sesuai dengan kurikulum tanpa memahami kebutuhan siswa. Di samping itu, keinginan untuk mengejar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti di negara-negara kaya dan maju, banyak mendominasi para penentu kebijakan pendidikan. Mereka tidak berpijak pada realitas bangsa sendiri, sehingga yang terjadi adalah terabaikannya peranan pendidikan informal sebagai tempat berkembangnya intuisi. Pendidikan dan politik memiliki kaitan yang sangat erat. Keduanya diarahkan pada tujuan hidup manusia dan masyarakat, menginginkan kehidupan yang berbahagia, diarahkan untuk membentuk kehidupan bersama. Indonesia yang tengah berkembang merupakan pencerminan dari kekuatan sosial politik kaum elit yang berkuasa dan refleksi kekuatan penguasa pada ide-ide politiknya.
Pendidikan Indonesia hendaknya berkembang dari budaya lokal, nasional, universal, dan global. Dimana pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia, sehingga perlu landasan pemikiran dalam pendidikan, dimana peranan utama pendidikan adalah membelajarkan anak agar mengalami growth in learning dan becoming process. Dengan belajar, anak tumbuh dan berkembang secara utuh. Karena itu, sekolah tidak mengajar anak, melainkan melaksanakan proses pembelajaran. Paham konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan dikonstruksi sendiri oleh siswa berdasarkan interaksinya dengan lingkungan dimana siswa sendiri yang membangun pengetahuannya, sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan mediator yang dinamis.

C. KESIMPULAN
 Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Dalam pembelajaran matematika kegiatan yang dilakukan agar pembelajaran bermakna yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Jadi yang diperlukan dalam pembelajaran adalah mengubah paradigma guru untuk mengadopsi model pembelajaran menuju kearah penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi dengan pendekatan ilmiah.
Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan, tidak hanya di Indonesia namun termasuk di seluruh dunia, lima ideologi pendidikan matematika menurut Paul Ernest masih terdapat dalam kurikulum pendidikan. Setiap pendidikan memiliki kurikulum yang dilandasi oleh pandangan filosofis tertentu. Filsafat merupakan sumber dan awal bagi tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai negara di dunia. Sehingga dapat dikatakan bahwa wujud kurikulum di sebuah negara adalah berdasarkan pada ideologi filosofis yang melandasinya.
 
REFERENSI

Ernest, Paul. 1991. The Philosophy of Mathematics Education. British: Taylor and Francis e-Library.

Ernest, P. 1999. Restoring Discipline to The Class: The New National Curriculum for Primary Mathematics Teacher Education dalam The Philosophy of Mathematics Education Journal. Tersedia di people.exeter.ac.uk/PErnest/pome11/pome11.doc. Diakses pada tanggal 17 November 2013

http://filsafatrani.blogspot.com/2011/06/menerapkan-filsafat-pada-pendididkan.html

Kemendikbud. (2013). Lampiran IV Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kemendikbud. (2013). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kemendikbud. (2013). Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kemendikbud. (2013). Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2013 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Marsigit. (2013). Peta 1-4 Pendidikan Dunia- Dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest. Diakses dari: (http://powermathematics.blogspot.com/2012/11/peta-3-pendidikan-dunia-dibuat-oleh.html)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar