A. PENDAHULUAN
Pada masa dulu, pendidikan bukanlah
hal yang sangat penting, tapi sekarang manusia telah menyadari bahwa pendidikan
merupakan suatu hal yang sangat penting begitu juga dengan filsafat pendidikan
matematika. Filsafat merupakan suatu disiplin ilmu terhadap objek yang ada dan
yang mungkin ada. Pendidikan dan filsafat tidak dapat dipisahkan satu dengan
yang lainnya. Filsafat bagi pendididkan berperan sebagai pedoman yang
memberikan arahan dan tujuan pendidikan. Sedangkan pendidikan bagi filsafat
merupakan suatu ruang yang selalu memberinya tempat untuk hidup dan terus
berkembang melalui kegiatan-kegiatan teroritis maupun praktis dalam pendidikan.
Dalam filsafat pendidikan matematika
yang perlu dilakukan yaitu dengan memahami ideologi dari pendidikan. Selanjutnya
memahami hakikat dari matematika itu sendiri dan juga pendidikan matematika. Dalam
kebutuhan kehidupan manusia pemahaman pendidikan matematika bertujuan untuk mengembangkan
kemampuan pola pikir manusia yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan. Pada
dasarnya hakikat dari pola pikir matematis akan menghasilkan pola pikir yang
dapat berkembang menuju ke arah yang lebih baik dan juga diperhatikan dalam
keadaan sosial agar terdapat kesesuaian tentang pola pikir yang diperlakukan.
Kehidupan dunia tidak hanya dalam
bidang pendidikan, namun terdapat dimensi struktur dunia. Dalam Marsigit
(2013:3) dijelaskan bahwa dimensi struktur dunia dapat menentukan karakter
setiap penghuninya dengan takdir dan ikhtiar. Hal tersebut dapat memberikan
karakter setiap manusia baik tertutup maupun terbuka. Interaksi
keadaan karakter manusia yang tertutup dan terbuka itulah yang memungkinkan
manusia untuk menggapai dimensi yang lebih tinggi, atau malah terperosok ke
sebaliknya ke dimensi yang lebih rendah. Dimensi struktur dunia tersebut
diantaranya agama, filsafat, ilmu, fisik hidup dan fisik non hidup.
Kehidupan Pendidikan Matematika Dunia
Pendidikan
matematika di Indonesia berkembang sejalan dengan perkembangan pendidikan matematika
dunia. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam proses pembelajaran di kelas,
selain dipengaruhi karena adanya tuntutan sesuai perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi juga dapat dipengaruhi oleh perubahan hakekat matematika dan
pembelajarannya.
Tidak
hanya matematika, apapun yang ada di dunia jika kita memikirkannya pasti akan
dapat mengubah manusia, apalagi jika hal tersebut merupakan suatu ilmu.
Matematika dapat mengubah pemikiran seseorang, dari kurang logis atau kurang
sistematis menjadi logis atau lebih sistematis dalam menarik suatu kesimpulan.
Matematika juga dapat merubah kehidupan saya dalam memecahkan masalah kehidupan
sehari-hari. Selain itu matematika juga dapat mengubah spiritual, bahwa ibadah
adalah sesuatu perbuatan yang harus kita jalankan sampai tak terhingga. Tak
terhingga berkaitan dengan matematika yang dalam artian sampai akhir kehidupan
seseorang.
Pada
pengajaran matematika tradisional di Indonesia, terdapat berbagai kelemahan
dalam materi yang disampaikan dan dalam proses kegiatan belajar mengajarnya. Perubahan
perkembangan pengajaran matematika terjadi dalam pengajaran matematika di luar
negeri. Hal ini terjadi karena dalam pengajaran sebelumnya banyak siswa yang
tidak mampu mempertahankan kemampuannya dalam belajar matematika sehingga
dilakukan suatu proyek perbaikan pendidikan terutama dalam pengajaran
matematika dengan dibentuknya sebuah gerakan matematika modern. Perbaikan
pendidikan ini memberikan pengaruh besar bagi pengajaran matematika di seluruh
dunia.
Karakter
Istilah
karakter sering dihubungkan dengan istilah etika, akhlak, atau nilai yang berkaitan dengan kekuatan moral,
berkonotasi positif.
Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) merupakan sifat-sifat
kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.
Menurut
Tadkiroatun Musfiroh dalam Didik
(2010:12), karakter mengacu kepada serangkaian sikap
(attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan
(skills). Selain itu karakter
berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan
bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah
laku.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Karakter
adalah nilai-nilai yang khas-baik yang telah dibawa sejak lahir oleh manusia dan
ditunjukan melalui serangkaian sikap dan tingkah laku.
Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah raga,
serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang. Karakter merupakan
ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilai, kemampuan,
kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan.
Menurut
T. Ramli dalam Didik
(2010:13), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang
sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk
pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik.
Karakter
merupakan suatu faktor dalam diri manusia yang dapat mempengaruhi perilaku
manusia dalam bertindak serta mempengaruhi pemikiran manusia juga.
Seseorang ada yang dikatakan mempunyai karakter yang baik atau buruk dan
menurut saya karakter manusia itu pasti bisa berubah. Seseorang yang menurut
pandangan orang lain bahwa dimasa kecilnya mempunyai karakter yang buruk, ketika
dewasa kemungkinan akan berubah menjadi baik atau mungkin lebih buruk, begitu
juga sebaliknya. Dan hal itu bisa saja dipengaruhi oleh banyak hal, dan yang
mungkin paling mendasari perubahan tersebut adalah proses pembelajaran yang
didalamnya ada sejumlah pengalaman, hukuman yang pernah diterima, pujian,
pendidikan dan lain-lain. Manusia akan selalu dan selalu berpikir dalam
hidupnya, tidak ada satu manusia pun yang tidak berpikir, hanya mnusia yang
koma atau mati yang berhenti berpikir. Proses berpikir inilah yang sesungguhnya
merupakan proses dari belajar manusia.
Membangun
Kehidupan Pendidikan Matematika Dunia dengan Karakter
Fungsi
agama kemudian adalah memedomani agar umatnya mampu beribadat sebaik-baiknya
sekaligus sebagai sumber moral (karakter), petunjuk kebenaran, bimbingan
rokhani dan telaah metafisika religi. Filsafat pendidikan matematika mempunyai
peranan penting dalam pembelajaran matematika di sekolah. Melalui filsafat guru
dituntut untuk menjadi seorang guru yang professional yang mempunyai tugas
untuk mendidik, tidak hanya mengajar namun membentuk karakter siswa untuk
menjadi siswa yang berguna bagi nusa dan bangsa.
Melalui
filsafat, guru dapat mempelajari pola tingkah laku siswa dan memahami dampaknya
terhadap pola pikir siswa. Dalam pendidikan guru hanya bertindak sebagai
fasilitator, karena sesuai dengan kurikulum bahwa mengajar bukanlah kegiatan
memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa namun membimbing siswa dengan
memberikan suatu kegiatan yang dapat membangun pengetahuannya sendiri.
Berdasarkan
penjelasan diatas, maka dalam suatu proses pembelajaran akan terbentuk karakter
siswa dengan adanya bimbingan dari guru memlaui kegiatan pembentukan pengetahuan
sendiri atau secara konstruktivisme oleh siswa. Pembentukan karakter tersebut
akan mempengaruhi pola piker siswa dalam belajar dan dalam kehidupan
sehari-hari. Sehingga akan mempengaruhi bagaimana kelangsungan atau kehidupan
pendidikan matematika di dunia melalui karakter yang terbentuk tersebut.
Kehidupan dunia tidak hanya dalam
bidang pendidikan, namun terdapat dimensi struktur dunia. Dimensi struktur
dunia dapat menentukan karakter setiap penghuninya dengan takdir dan ikhtiar. Dalam
perkembangan dunia pendidikan diketahui bahwa belajar terjadi melalui proses
bertingkah laku dan berpikir. Hal ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang
terjadi memiliki fungsi. Perubahan dan perkembangan pendidikan di negara maju
banyak diikuti oleh negara lain, tidak hanya dalam segi kurikulum yang
digunakan namun juga pada materi yang disampaikan dan metode yang digunakan
dalam mengajar.
Bentuk pelaksanaan
dalam pengajaran matematika modern berbeda di setiap negara, karena disesuaikan
dengan situasi dan kondisi setempat. Tetapi secara umum pengajaran matematika
memiliki tujuan yang sama. Tidak hanya dalam pendidikan matematika namun dalam
setiap pendidikan proses pembelajaran akan membantu dalam membentuk karakter
siswa melalui kegiatan konstruktivisme yang dilakukan. Hal ini berguna untuk
menghadapi dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
REFERENSI
Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi.2010. Kerangka Acuan
Pendidikan Karakter Tahun Anggaran 2010. Jakarta. Kemendiknas
Marsigit. 2013. Urgensi Filsafat dalam Pendidikan
Islam untuk Membentuk Karakter. Medan: Seminar Lokakarya Kurikulum Fakultas
Agama Islam dan Filsafat UNPAB.
http://astitirahayui.wordpress.com/2012/01/11/perkembangan-pengajaran-matematika/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar